Catatan Singkat di Kota Banyuwangi

Ahad, 5 Agustus 2018

Setibanya di Banyuwangi kami disambut hujan gerimis ringan, awan mendung nampak merata selimuti kota yang memiliki julukan Bumi Blambangan ini, Blambangan diambil dari nama kerajaan yang pernah ada di Ujung Timur Pulau Jawa. Konon kerajaan Blambangan merupakan kerajaan terkahir bercorak Hindu yang ada di Pulau Jawa

Kesan pertama dari kota ini yang saya rasakan adalah Ayem (tenang/tenteram). Saya sebut ayem karena saya lihat jarang terlihat kemacetan di pusat kota, masih Jarang ada gedung tinggi, Mall, pusat perbelanjaan dsb, jarang ada kepadatan di perempatan lampu merah, rata-rata kendaraan dipacu dengan kecepatan standard tidak saling keburu-buru seola dikejar waktu dan jarang terdengar bunyi klakson bersautan saat detik pertama lampu hijau seperti umumnya terjadi di kota2 besar :).

Akomodasi Selama di Banyuwangi

Hal pertama yang saya cari sesampainya di Banyuwangi adalah Penginapan/Hotel dan Kendaraan (Motor) untuk berkeliling. Ya, sudah sampai di Banyuwangi tapi saya belum dapat penginapan. Niatnya sebenarnya mau cari sewaktu di Bus saat perjalanan dari Solo, namun apa daya disepanjang perjalanan lebih banyak tidur hanya sempat wishlist beberapa penginapan dari situs penyedia booking online. Kendaraan juga sama belum dapat, sudah cari beberapa referensi penyedia jasa sewa motor saat diperjalanan hasilnya nihil, semuanya full booked bahkan ada yang penuh sampai tanggal 19 Agustus 2018.

  • Penginapan 

Akhirnya singgah sebentar di Mushala Pom Bensin dekat Terminal Brawijaya (Karangenten) untuk mencoba kontak langsung penginapan di daftar wishlist yang saya peroleh tanpa order melalui situs booking online. Salah satunya kontak ke Guest House Umah Isun BSD dan ternyata masih ada kamar kosong dan beruntungnya lagi saya bisa check in langsung di jam itu juga tanpa harus menunggu waktu check in normal, waktu itu masih pukul 09.30. Guest House ini nantinya menjadi penginapan saya selama di Banyuwangi.

Umah Isun BSD Guest House Banyuwangi
Umah Isun BSD Guest House Banyuwangi

Berikut beberapa pertimbangan saya  memilih Umah Isun BSD :

  • Harga terjangkau ( Rp. 125.000 include breakfast)
  • Lokasi Strategis, terletak di tengah kota
  • Pemilik sangat ramah dan fast response (Saya order langsung via Whatsapp chat)
  • Menu Breakfast sederhana namun enak 🙂
  • Dekat dengan Mushala & Loundry
  • Kamar cukup Bersih
  • Parkir luas

Wajar jika rating Guest House ini saya lihat rata2 bernilai 9 di hampir seluruh situs booking online. Bahkan dari 6 kamar yang tersedia rata-rata tamu saat itu adalah traveler dari manca negara Perancis, Switzerland dan Amerika. Hanya belum tersedia TV dan Water Heater di dalam kamar. Mungkin karena harga yang ditawarkan cukup murah jadi tidak include fasilitas tersebut. Tapi bagi yang kebetulan menginap saat cuaca Banyuwangi dingin (21/22 C) dan sering gerimis/hujan seperti yang saya alami, siap2 mandi kedinginan. Bbrrrrrr

  • Kendaraan

Setelah kontak beberapa jasa sewa motor belum dapat karena full booked, saya coba nanya ke pemilik Guest House Umah Isun barangkali menyediakan layanan sewa motor. Eh ndelalah beliau juga bisa disewakan motor Varionya, biaya Rp 65.000/hari. Saya pilih sewa sepeda motor agar lebih fleksibel, sewaktu-waktu mau jalan-jalan atau keluar untuk beli keperluan tinggal pakai motor dan tentunya agar lebih irit biaya juga, dari pada harus order taksi online kalo ingin berpergian.

Sewaan Motor Vario - Arifrahman.net
Sewaan Motor Vario – Arifrahman.net

Malam Pertama di Banyuwangi

Sampai di Penginapan Hujan mulai turun, saya putuskan untuk istirahat sejenak sekaligus melepas lelah setelah perjalanan panjang Solo-Banyuwangi via jalur darat. Makan siang hari ini order melalui aplikasi Go-Food dari pilihan menu yang ada saya pilih Bakso, pas saat suasana Dingin disertai Hujan. Syahdu 🙂

  • Alun-alun Banyuwangi (Taman Blambangan)

Sore Hari badan sudah mulai seger lihat cuaca juga sudah cerah, hujan sudah reda tapi udara masih cukup dingin agak aneh juga daerah pesisir yang biasanya panas malah terasa dingin. Sempat nanya ke pemilih Guest House cuaca Banyuwangi akhir-akhir memang sangat dingin berbeda dengan hari biasa. Suhu dingin tidak menyurutkan niat untuk keluar keliling kota Banyuwangi, sayang sudah jauh2 ke sini, kalo cuma ‘mager’ bisa dirumah. Destinasi pertama saya di kota ini adalah Alun-Alun Banyuwangi atau disini biasa dikenal Taman Blambangan.

Jarak Penginapan dengan Taman Blambangan cukup dekat hanya sekitar 2,5 (Sekitar 10 Menit) lokasinya berdekatan dengan Pasar Tradisional Banyuwangi. Awalnya perkiraan saya karena Alun-alun merupakan pusat kota pasti ramai dengan berbagai pengunjung mulai anak muda yang hanya sekedar kongkow-kongkow dan kuliner yang mengelilingi alun-alun seperti di kota asal saya, tapi ternyata tidak sepenunhya benar. Keramaian hanya ada di satu sisi taman, pusat kuliner, persewaan mobil-mobilan dan scooter untuk anak-anak hanya ada disisi tersebut. Sisi lainnya dominan gelap dan jarang ada pengungjung.

Saya dan Istri mampir ke warung kuliner di area Taman untuk pesan makan malam, Kami memesan :

  • 2 Gelas Indocafe Cappucino hangat
  • 1 porsi Roti bakar
  • 1 posi Mie kuah pedas khas Solo (Jauh-jauh ke Banyuwangi Makannya masakan Solo juga :D)
  • 1 Nasi Mawut (Nasi goreng dicampur Mie)
  • 2 kerupuk

Biaya keseluruhan Makanan diatas : Rp. 36.000

Selesai makan, disisi taman yang sama ada semacam panggung pertunjukan. saya sempatkan melihat sebentar, dari spanduk yang dipasang tertulis Pentas Seni desa Tegal Sari.  Saya tanya dengan Ibu yang juga ikut menonton ternyata pentas ini adalah program dari pemerintah daerah setempat, masing-masing desa/kecamatan menampilkan pentas seni bergiliran setiap hari selama satu bulan penuh. Pentas Seni malam itu menampilkan Rebana yang melantunkan shawalat.

  • Nonton Bioskop

Selesai makan malam di Taman Blambangan, Waktu baru menunjukkan pukul 20.00 WIB belum terlalu larut malam. Sepintas kepikiran nonton Bioskop karena kebetulan ada satu Film Baru yang belum sempat ditonton, Mission Impossible. Lagi-lagi browsing barangkali ada Bioskop di Banyuwangi, dapat info ada Bioskop dengan nama NSC (New Star Cineplex) akhirnya diputuskan Nonton Mission Impossible sebagai penutup malam pertama di kota ini.

NSC (New Star Cineplex) Banyuwangi
NSC (New Star Cineplex) Banyuwangi

Sedikit pengalaman nonton Bioskop di kota kecil, karena saya biasa nonton di XXI atau CGV di kota besar bayangan saya gedung Bioskop disini juga besar dengan parkiran luas. Tapi ternyata saya sempat kelewat karena saat malam hari dari luar, bangunan Bioskop ini sekilas mirip lapangan futsal di kota besar. No offense :D. Tapi kalo sudah sampai dalam hampir sama kok. Bedanya yang saya temui kemarin di theater masih ada petugas bawa senter yang bertugas menunjukkan tempat duduk pengunjung. Oiya tiketnya menggunakan hasil print out seperti struk minimarket.

Sekitar pukul sebelas malam film usai, saatnya menyusuri kota Banyuwangi untuk kembali ke penginapan. 

Gempa Lombok

Bersamaan dengan liburan hari pertama saya di Banyuwangi, dapat kabar ada musibah Gempa mengguncang Lombok. Bahkan BMKG Sempat mengumumukan bahwa Gempa tersebut memicu Tsunami. Gempa terjadi sekitar pukul 18.46 kemungkinan saat saya berada di Taman Blambangan tapi saya tidak merasakannya sama sekali. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menampuni Dosa korban serta memberikan ketabahan kepada para keluarga yang ditinggalkan.

Pengeluaran Hari Pertama di Banyuwangi

  • Penginapan 1 Hari : Rp. 125.000
  • Sewa Motor 1 Hari : Rp. 65.000
  • Makan Siang (Bakso via Go-Food) : Rp. 37.000
  • Makan Malam : Rp. 36.000
  • Bioskop : Rp. 40.000 x 2 = 80.000 (Include air mineral)

Total Pengeluaran : Rp. 343.000

Sekian catatan singkat perjalanan saya di Banyuwangi di hari pertama, Besok lanjut keliling kota lagi.

About the Author: Arif Rahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *